Pengajian Rutin dan Halal Bihalal MWC NU Taktakan Digelar di Cibendung, Serang

Serang,-METROBANTEN.Com - Pengurus Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Kecamatan Taktakan menggelar pengajian rutin bulanan yang dirangkai dengan halal bihalal di Masjid Jamiatul Muttaqin, Kelurahan Cibendung, Kota Serang, Rabu (8/4/2026).
Kegiatan ini dihadiri Ketua MWC NU Taktakan Ustadz Abdul Hanan, penceramah KH Daelami dari Pelamunan, KH Wawan Sumarwan selaku Rois Surya MWC NU Taktakan, KH Rohmatulloh Ketua MUI Taktakan, serta Akbarudin Sekretaris PCNU Kota Serang.
Turut hadir jajaran pengurus ranting NU se-Kecamatan Taktakan, Lurah Cibendung Hj Yanti Nur, tokoh agama, tokoh masyarakat, hingga jamaah ibu-ibu majelis taklim setempat.
Ketua PR NU Kelurahan Cibendung, Ustadz H. Mufid, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut di wilayahnya.
“Baru tahun ini Kelurahan Cibendung mendapat kesempatan menjadi tuan rumah sejak awal kelurahan ini diakui oleh pemerintah,” ujar Mufid.
Ia juga berharap NU terus berperan sebagai wadah pemersatu umat di tengah perbedaan pandangan.
“Kami berharap agar NU bisa menjadi salah satu organisasi Islam yang menjadi wadah dan payung untuk mempersatukan umat, baik dalam menyikapi pemahaman dan perbedaan pendapat sehingga NU bisa menjadi rahmat bagi seluruh umat,” tambahnya.
Sementara itu, Ketua MWC NU Taktakan, Ustadz Abdul Hanan, menyampaikan terima kasih kepada panitia dan masyarakat yang telah mendukung kegiatan tersebut.
“Kami juga memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada Bu Lurah Cibendung yang telah mensupport kegiatan ini,” katanya.
Ia menegaskan pentingnya menjaga tradisi pengajian rutin dan halal bihalal sebagai warisan nilai keagamaan.
“Kegiatan halal bihalal dan pengajian rutin bulanan ini harus selalu kita lestarikan dan kita jaga bersama agar bisa kita wariskan kepada generasi penerus kita,” ujar Abdul Hanan.
Ia juga mengingatkan agar jasa para ulama dan tokoh agama tidak dilupakan, sekaligus mendorong adanya perhatian dari pemerintah.
“Jasa para ulama terdahulu pendiri NU dan pendiri NKRI ini jangan sampai kita lupakan, terutama para kyai dan ustadz di kampung ini sebagai penerusnya. Oleh karena itu kami berharap agar pemerintah bisa hadir dan tampil untuk memberikan apresiasi,” tambahnya.
Kegiatan dilanjutkan dengan tausyiah oleh KH Daelami, kemudian ditutup dengan doa, ramah tamah, salat Dzuhur berjamaah, serta makan bersama.
Di tengah padatnya agenda keagamaan, forum seperti ini tampaknya masih jadi ruang paling efektif: sederhana, tapi cukup untuk merawat silaturahmi dan menjaga arah.(Swr/red)
